Senin, 23 September 2013

Mahasiswa adalah kaum terpelajar muda yang berada pada level tertinggi suatu proses pendidikan, dimana pada diri merekalah terdapat sebuah tumpuan harapan rakyat yang sangat besar. Peranan mahasiswa sesungguhya sebagai individu – individu yang berusaha mengubah tradisi, dengan demikian akan terjadi perubahan tradisi yang lebih baik dalam dinamika kehidupan masyarakat. Sejatinya mahasiswa bergerak melalui mekanisme pendidikan aktif dan independensinya yang tidak dicemari oleh berbagai kepentingan sosio cultural politic yang bertentangan dengan kepentingan rakyat. Maka muncullah pelaku pergerakan rakyat yang sering diistilahkan dengan aktivis kampus.

Diakui atau tidak, mahasiswa telah mengalami reduksi pada substansi makna maupun peran dan nilai – nilai integritas dalam konteks sosial. Factor krusial yang paling melegitimasi asumsi ini adalah bahwa saat ini mahasiswa kurang mengaktualisasikan diri ditengah masyarakat akibat keterkungkungan paradigma. Selanjutnya yang terhadi adalah adanya jurang kesenjangan yang semakin tampak dengan akar personal yang sebenarnya. Sebagai Agent sosial of change, mahasiswa telah terjebak dalam ruang sempit yang disadari atau tidak telah membuat dirinya sendiri dan menjadikannya “ageng of hedonis and pragmatis” yang cenderung menyukai hal – hal praktis dan hanya mau menikmati sesuatu tanpa adanya usaha dan idealism. Dengan jiwa mahasiswa yang hedonis dan pragmatis, akan sulit tercapai cita – cita mahasiswa sebagai pembaharu umat dan bangsa.

Pembangunan karakter juga sangat perlu untuk dilakukan. Banyak penelitian yang menyebutkan karakter dapat mempengaruhi kesuksesan seseorang. Seseorang dapat dikatakan berkarakter jika ia telah berhasil menyerap nilai dan keyakinan yang dikehendaki masyarakat serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam menjalani kehidupannya. Sebagai umat islam tentunya kita berpegang teguh pada Al-Quran dan As-Sunnah dalam memecahkan kehidupan kita sehari-hari. Internalisasi nilai – nilai islam dalam diri seseorang, terutama mahasiswa, bertujuan untuk mengembangkan dan menyeimbangkan potensi iman dan ilmu yang ada pada dirinya. Melalui penanaman nilai – nilai keislaman inilah yang menjadi upaya untuk menumbuhkan dan mengoptimalkan potensi kader menjadi sebaik – baiknya khalifah fil-Ardh.

Diskusi ringan yang diadakan oleh unit perkaderan Rabu, 18 september 2013 yang menghadirkan petinggi UII dan alumni UII yang pernah menjabat sebagai petinggi – petinggi UII sebelumnya, yaitu pak Hilal Hilmansyah, ST. , pak Raja Rizki, ST., dan Pak Emil Ansori.


Diskusi ini dilakukan untuk memberikan pengarahan kepada teman – teman Maba/Miba agar kedepannya menjadi mahasiswa yang bisa berorganisasi dan mengetahui posisinya sebagai Agent of change selain mereka menerima ilmu di bangku kuliah.

Senin, 28 Mei 2012


Kapitalisme adalah sistem sosial yang didasarkan pada pengakuan hak-hak individu. Dalam ranah ekonomi, kapitalisme memisahkan intervensi negara dengan perekonomian, seperti halnya ada sekuler yang memisahkan agama dengan negaranya. Dalam perekonomian kapitalisme menekankan peran kapital (modal), yakni kekayaan dalam segala jenisnya, termasuk barang-barang yang digunakan dalam produksi barang lainnya. Kapitalisme sebagai sistem sosial yang menyeluruh, lebih dari sekedar sistem perekonomian. Ia mengaitkan perkembangan kapitalisme sebagai bagian dari gerakan individualisme.

Dalam perjalanannya, kapitalisme telah memberikan efek buruk bagi perekonomian dan kesenjangan sosial yang semakin menganga, terjadinya gap (jurang pemisah) antara si kaya dan si miskin. Itu semua merupakan dampak dari kejamnya kapitalisme yang terjadi di di beberapa negara berkembang termasuk Indonesia. Negara Indonesia merupakan negara demokrasi, dan menurut Karl Marx negara demokrasi adalah negara kapitalis, karena negara dikontrol oleh logika ekonomi kapitalis yang mendiktekan bahwa kebanyakan keputusan politik harus menguntungkan kepentingan kapitalis. Dalam hal ini yang diuntungkan adalah para pemilik modal (kapitalis), sedangkan masyarakat kecil tetap berada dalam bingkai kemiskinan akibat kapitalisme.

Sudah banyak perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia seperti Freeport yang mengekploitasi hasil bumi di Papua dan Exxon Mobil di Aceh, tidak memperhatikan kesejahteraan rakyat di sekitarnya. Bahkan pemerintah cenderung berpihak pada investor ketika terjadi sengketa antara pihak perusahan dan masyarakat sekitar. Keberpihakan kepolisian pada perusahaan asing di Indonesia seperti dalam tragedi Mesuji maupun Bima merupakan bukti nyata bahwa republik ini penganut kapitalis. Karena salah satu ciri negara kapitalis adalah berpindahnya peran pemerintah yang semula melayani rakyat berubah menjadi pelayan investor atau pemilik modal. Menurut AM Saefuddin (2011), kapitalisme merupakan suatu istilah luas yang meliputi: (1) cara produksi kapitalis, (2) kerangka sosio-ekonomi kapitalis, (3) mentalitas kapitalistis. Pada pokoknya, kesemuanya ini hanyalah merupakan tiga segi dari gejala yang sama.

Kapitalisme sebenarnya telah dimulai saat zaman feodalisme Eropa, dimana perekonomian dimonopoli oleh kaum bangsawan dan tuan tanah. Perkembangan awal kapitalisme dimulai sekitar abad 16, dimana saat itu Eropa sedang giat meningkatkan perbankan komersil. Teori ini berkembang saat revolusi industri di Inggris, modal dan keuntungan dalam setiap transaksi sangat diperhitungkan. Kapitalisme yang dianut dalam revolusi industri merupakan satu revolusi budaya yang bersifat fundamental dalam perkembangan masyarakat Eropa. Kapitalisme berkembang secara cepat, dikarenakan bebas dari tekanan agama maupun negara. Perkembangan kapitalis pasca revolusi Industri meningkat, seiring berdirinya perusahaan-perusahaan besar di Eropa.

Kejamnya Kapitalisme
Eksistensi kapitalisme sudah banyak digugat oleh kalangan masyarakat termasuk di negara yang menganut sistem ini. Sistem kapitalisme terus digugat karena memiliki efek buruk yang sangat berbahaya bagi keberlangsungan ekonomi suatu bangsa. Di antara dampak yang ditimbulkan kapitalisme adalah meningkatnya kemiskinan, merusak budaya lokal, dan akan membentuk manusia menjadi konsumtif. Meningkatnya kemiskinan akibat kapitalisme pada akhirnya menimbulkan banyak pengangguran, terjadinya ketimpangan ekonomi antara orang kaya dengan yang miskin. Kapitalisme membuat negara miskin semakin miskin karena terbelit utang IMF. Pada akhirnya, kapitalisme membuat negara miskin dan berkembang sulit bersaing dengan negara maju lainnya.

Berkaitan dengan kemiskinan, Badan Pusat Statistik (BPS) 2011 menyebutkan angka kemiskinan di Indonesia mencapai lebih dari 31 juta orang. Jumlah dipredikasi akan meningkat pada tahun 2012 menyusul krisis keuangan dunia yang masih berlangsung. Parahnya lagi, Bank Dunia menyebutkan bahwa jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 100 juta jiwa. Kalau kita perhatikan jumlah kemiskinan di republik ini bukan berkurang, tetapi justru terus bertambah. Disadari atau tidak, semua itu merupakan buah pahit dari kapitalisme yang terus merajalela.

Menurut penulis setidaknya ada beberapa faktor kenapa sistem kapitalisme yang selama ini diagung-agungkan sering menemui kegagalan. Pertama, tujuan kapitalisme yang bukan sekadar memenuhi kebutuhan dasar manusia, tetapi juga untuk memuaskan nafsu manusia yang tidak pernah puas. Nafsu manusia yang tidak dilandasi dengan moralitas dan keimanan menjadikan seseorang serakah dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Kedua, kehidupan kapitalisme digerakkan secara dominan oleh ekonomi berbasis sektor keuangan yang penuh spekulatif, bukan digerakkan ke sektor riil yang produktif.

Demokrasi Ekonomi
Dalam proses pembangunan ekonomi di Indonesia rakyat sering kali mengalami kemiskinan, kelaparan bahkan kekerasan. Semua ini terjadi akibat pembangunan ekonomi yang tidak berpihak pada rakyat. Kekayaan yang dimiliki Indonesia mulai pertanian yang subur, laut yang melimpah dan kekayaan hutan hanya untuk kepentingan para kapital dan investor asing. Awan Santosa (2009), mengatakan bahwa demokrasi ekonomi tidak bisa diraih dengan cara menjalankan demokrasi liberal, tetapi demokrasi ekonomi dapat dicapai dengan cara membangun gerakan sosial yang kokoh. Gerakan sosial memaknai demokrasi sebagai proses mendaulatkan rakyat bukan untuk memarjinalkan rakyat melalui pendaulatan kekuatan modal.

Sistem ekonomi kapitalisme yang banyak dianut negara-negara di dunia, khususnya negara barat mengenyampingkan rasa keadilan bagi umat manusia sehingga menimbulkan kemiskinan yang terus merajalela. Karena Kapaitalis lahir dengan dasar mengesampingkan peran agama untuk mengatur manusia. dengan kata lain agama hanya ditempatkan pada wilayah individu bukan wilayah umum. Maka inilah yang menjadi sumber malapetaka Indonesia saat ini. Tatkala Indonesia mengadopsi sistem kapitalisme maka bukanlah kesejahteraan yang diperoleh melainkan kemiskinan, kelaparan, pengangguran menjadi hal biasa di tengah tengah masyarakat.


Selasa, 13 Desember 2011


Ditulis oleh : Eko Bayu Firdaus (Kader Hmi Kofak TI UII) 


Pendahuluan
Tulisan ini dibuat atas dasar keresahan penulis terhadap pola pikir mahasiswa yang cenderung pragmatis dan tidak konstruktif. Mental mahasiswa yang kini hanya pada titik labil yang cenderung menurun. Keseimbangan intelektualitas dan kemampuan memimpin menjadi tolak ukur yang harus dicermati dan kampus “seharusnya” sebagai orang tua yang bertanggung jawab atas perihal tersebut.

Ketika kita berbicara tentang perguruan tinggi, sebenarnya apa yang ada didalam benak kita? Suatu gengsi atau sebuah institusi yang mendukung jenjang pendidikan kita dalam menghadapi tantangan zaman?. Ketika penulis berfikir untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang dipikirkan pertama kali adalah saya akan menjadi orang pintar, saya pasti menjadi orang sukses. Sedangkan kini data Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2010, lulusan perguruan tinggi menempati peringkat teratas sebagai pengangguran terbuka. Dari 8,59 juta penduduk yang menanggur, sebanyak 15,7 persen diploma dan 14,2 persen sarjana.

Universitas Islam Indonesia adalah peristiwa bersejarah yang lahir dari keresahan akan keberadaan intelektual muslim yang akan meneruskan perjuangan bangsa Indonesia. Pada tahun 1947 dikutip dalam buku sejarah dinamika UII bahwasanya STI lahir untuk menjadi bukti adanya kesadaran berpendidikan pada masyarakat pribumi. STI adalah cita-cita luhur tokoh-tokoh nasional Indonesia yang melihat kenyataan bahwa ketika itu pendidikan tinggi yang ada adalah milik Belanda (Technische Hoogeschool atau Institut Teknologi Bandung kini, Recht Hoogeschool di Jakarta dan Sekolah Tinggi Pertanian di Bogor). Kemudian, STI menjadi UII didahului pembukaan kelas pendahuluan (semacam pra universitas) yang diresmikan pada bulan Maret 1948 di Pendopo nDalem Purbojo, Ngasem Yogyakarta.

Dalam pasal 2 ayat 1 (a) dalam peraturan pemerintah nomor 60 tahun 1999 berisikan bahwa salah satu tujan pendidikan tinggi adalah menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian.

Dalam pasal diatas dijelaskan cita-cita pemerintah akan perguruan tinggi pada tingkat pemikiran dan kecerdasan siswa atau biasa disebut mahasiswa diharapkan sudah mumpuni dan dapat mengembangkan keilmuannya. Kampus sebagai  sebuah wadah intelektual muda yang mengasah kemampuan diri dengan didampingi seorang pengajar yang disebut dosen. Peran komunikatif antara dosen dan mahasiswa harus berjalan dengan masif sampai pada toga melekat pada mahasiswa tersebut. Dan penulis sepakat bahwa kampus sudah menjadi ruang mahasiswa untuk bergerak menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademis yang baik.

“Namun saat ini kita kembali mempertanyakan kemana arah gerak kampus dalam membentuk karakter mahasiswa? Mau dijadikan apa manusia yang berstatus mahasiswa itu?”
           
            Gerakan kampus untuk mendukung mahasiswa aktif partisipatif disini menjelaskan bahwa dorongan kampus terhadap aktifitas mahasiswa pun diperhatikan. Kegiatan berorganisasi, berdiskusi, dan meneliti seharusnya dijadikan sebuah kurikulum pendidikan tinggi saat ini. Bagaimana kita membuat mahasiswa memiliki jiwa kemimpinan yang kuat, progresif namun tidak sporadis. Hilangnya karakter bangsa Indonesia bisa menyebabkan martabat bangsa diinjak-injak, apalagi jika kita melihat moral para pejabat yang katanya sudah mendapat gelar sarjana ataupun master. Hanya tangis dan deru nafas yang menguat melihat tindakan yang memalukan seperti itu. Apa yang sudah dilakukan kampus ketika mendidik manusia yang suka memakan harta yang bukan haknya?. Bertanyalah pada rumput yang bergoyang, atau semilirnya angin yang membawa kita kepada alam mimpi.
           
Isi

            Memasuki dimensi perubahan sosial, kita akan menemukan perbincangan mengenai faktor-faktor yang menimbulkan perubahan sosial ,  agent of social change berapa lama perubahan sosial itu terjadi, dan apa dampak dari perubahan sosial tersebut. Perubahan sosial secara perlahan dan terus menerus mengalami perubahan tanpa ada perencanaan disebut unplanned social change. Faktanya (Rakhmat,2005) , perubahan sosial yang demikian disebabkan oleh perubahan dalam bidang teknologi atau globalisasi.

            Bung Karno dalam pidatonya pada Hari Ulang Tahun Republik Indonesia tahun 1966, “bahwa bangsa Indonesia pada masa selanjutnya sudah menunjukkan gejala akan datangnya masa yang lebih berat”. Dalam kutipan pidato tersebut menegaskan bahwa perubahan sosial akan terus terjadi dan semakin berat beriringan dengan lahirnya era globalisasi. Bung Karno pun pernah berkata bahwa jangan pernah sekali-kali kita melupakan sejarah. Bagaimana kita membangun bangsa (nation building) dari kemerosotan zaman kolonial untuk dijadikan satu bangsa yang berjiwa yang dapat dan mampu menghadapi semua tantangan atau bangsa yang merdeka dalam abad ke-20 ini? (Soekarno, 1966).

            Bung Karno pun menuturkan bahwa, “Membangun suatu negara, membangun ekonomi, membangun teknik, membangun pertanahan adalah pertama-tama dan pada tahap utamanya membangun jiwa bangsa”. Institusi pendidikan sebagai pondasi utama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa yang tertuang dalam undang-undang dasar 1945.
           
Negara-negara maju seperti Jerman memberikan pendidikan gratis pada warga negaranya dalam upaya mencerdaskan masyarakatnya. Sedangkan banyak ditemui di Indonesia banyak siswa sekolah yang ingin melanjutkan namun terbelenggu biaya pendidikan akibat “tikus-tikus kotor” yang memakan uang rakyat. Dalam hal ini, sebagai mahasiswa dan pemerhati pendidikan penulis memiliki sebuah harapan dimana golongan-golongan seperti halnya diatas dapat ditampung dan dibantu guna “mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Mahasiswa yang sudah terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia didorong oleh sistem yang ada dikampus untuk dapat aktif membangun karakternya masing-masing. Hal ini sangat diperlukan penekanan dari pihak kampus. Mahasiswa kini banyak melihat sosok barat yang menjadi idola dan menurut Jalaludin Rakhmat “yang mempengaruhi terjadinya perubahan adalah great individuals (tokoh-tokoh besar)”. Budaya pop kini menuntun mahasiswa menjadi mahasiswa yang pragmatis dan konsumtif, apa yang ada di barat diikuti. Carlyle pernah menyatakan, “ sejarah dunia... adalah biografi orang-orang besar”  mengapa saya katakan sosok menjadi hal yang penting saat ini.

Pada zaman globalisasi saat ini kita dapat melihat perbandingan prosentase mahasiswa yang mengidolakan para pejuang bangsa Indonesia yang berusaha menjadikan Indonesia bangsa yang merdeka dengan orang-orang yang menciptakan teknologi. Kekaguman terhadap sosok pejuang tanah air kian hari kian luntur, sejarah tinggal cerita yang usang dan ditinggalkan oleh para pendengarnya. Oleh karena itu, butuh gerakan refleksi kampus dalam mendidik mahasiswa menjadi nasionalis namun tidak fanatik. Hal ini dapat dilakukan dengan mendorong mahasiswa aktif dalam berorganisasi dan berdiskusi dalam kegiatan-kegiatan lembaga mahasiswa, kita perlu membuat “sks” pada aktifitas organisasi ini.

Kegiatan-kegiatan konservatif juga harus lebih digalakkan terkait teknis bagaimana kita meneliti, berdiskusi membicarakan permasalahan sosial tidak perlu jauh tentang hukum, ekonomi ataupun politik namun sesuai dengan konsentrasi yang dimiliki. Apa yang bisa dilakukan mahasiswa Indonesia dalam menciptakan sebuah terobosan, bukan sebuah kuliah 3 sks kemudian pulang dan lupa apa yang telah diajarkan pada hari tersebut. Kemudian ada sebuah realita yang saat ini membudaya dikalangan muda, Mahasiswa yang seharusnya up to date news atau isu-isu nasional namun kini terbalik malah hanya update status di jejaring sosial seperti Twitter atau Facebook. Sebuah realita yang menggelitik jika kita mendengar kata “mahasiswa” hanya melakukan aktifitas seperti itu.

Sarana prasarana menjadi hal pendukung yang paling penting dalam memberikan ruang mengembangkan diri. Secara konkrit perlu adanya taman bacaan, tempat olahraga, sistem informasi yang dapat ditemui diberbagai sudut, kenyamanan dalam belajar, media menuangkan ide seperti inovasi dan bisnis, sosial kemasyarakatan, peneliti muda, dan mahasiswa berbakat, sistem multimedia yang memadai disetiap kelas, dan banyak hal lainnya yang dapat mendukung aktifitas belajar mengajar, berorganisasi, dan mengembangkan diri.

Saya melihat fasilitas seperti tempat membaca koran, anjungan komputer, kursi kelas belum bisa membuat nyaman mahasiswa untuk memanfaatkannya. Kemudian tanah kosong yang belum dimanfaatkan bisa dijadikan taman bacaan mahasiswa tentunya dengan kenyamanan yang dirasa cukup (walaupun itu relatif). Ruang bergerak organisasi pun perlu adanya rehabilitasi bangunan dan struktur yang diperluas dengan harapan meningkatnya partisipasi mahasiswa dalam berorganisasi
           
            Sebuah harapan besar ada didepan mata, namun bagaimana kita saat ini membangunkan kembali macan yang tertidur dalam diri mahasiswa dalam menerjang tantangan hidup. Selain cita-cita individu ditanamkan pula cita-cita bangsa Indonesia yang menginginkan masyarakat yang cerdas dan terbebas dalam jajahan.


Penutup

Setiap mahasiswa pasti memiliki impian dan cita-cita untuk menggapai kesuksesan, namun saat ini hal itu tidak dibarengi dengan usaha keras. Semua kampus  menjadi ruang berpikir dan mengembangkan keilmuan. Perlu adanya dorongan yang kuat dari diri individu mahasiswa dan kampus yang berusaha dalam menjalankan amanah undang-undang dasar 1945. Mahasiswa menjadi pilar masa depan bangsa.

Dan kita melihat saat ini mayoritas mahasiswa berpikir instan, ingin menjadi orang sukses namun tidak mau berusaha dan bekerja keras. Menurut Mario Teguh, “kesuksesan memerlukan keberanian, seberapa besar hidup yang anda inginkan, akan sama halnya dengan seberapa besar resiko yang berani anda ambil”. Tidak ada orang besar di negeri ini yang masa mudanya hanya dipenuhi oleh kegiatan hura-hura dan berfoya-foya, pasti pada masa mudanya dijalani dengan usaha keras. Berpikir, membaca, berdiskusi dan menulis merupakan kegiatan mereka sehari-hari. Jadi lebih baik kita mencontoh hal-hal tersebut dan bukan malah mencontoh berhura hura dan berfoya-foya.

Sebenarnya kita patut bersyukur dan bangga jika dapat menyandang gelar sebagai seorang mahasiswa karena hanya sekitar 4,3 juta orang atau 5 % dari jumlah penduduk Indonesia yang bisa merasakan pendidikan tinggi. Rasa syukur itu dapat kita wujudkan dengan benar-benar menjadi seorang “MAHASISWA” dan bukan menjadi “mahasiswa angin-anginan” atau “mahasiswa abal-abal” yang hanya menumpang bertitel “MAHASISWA”, namun secara intelektualitas, pola pikir dan tindakan tidak menunjukan predikat sebagai seorang mahasiswa. Mari kita jalani “The real education” ini dengan baik dan sepenuh hati untuk menggapai impian dan kesuksesan yang kita idamkan dan pada akhirnya nanti mendapat prestisius dan sebuah pengakuan atas semua usaha yang kita lakukan saat ini.

Akhir sebuah kata dalam tulisan “Gerakan kampus mendukung mahasiswa aktif partisipatif” adalah upaya kampus dalam mewadahi kebutuhan mahasiswa dan keresahan penulis akan mental mahasiswa yang terhanyut dalam budaya pop dengan kapitalisme dan hedonismenya. Dan mudah-mudahan ini menjawab segenap perwakilan mahasiswa yang ada dalam keresahannya dan menunggu datangnya perubahan itu, menjadi Mahasiswa yang aktif partisipatif dalam pembangunan bangsa, dan sosok itu dalah mahasiswa FTI UII.

Jumat, 18 November 2011

   Idul Adha juga disebut idul kurban. Mengapa disebut ibadah qurban, karena pada hari Idul Adha bagi umat Islam yang mampu diwajibkan menyembelih hewan kurban. Daging hewan kurban dibagikan kepada fakir miskin dengan harapan mereka pun turut menikmati lezatnya daging hewan yang barangkali jarang mereka jumpai pada hari-hari biasa. Perintah menyembelih hewan kurban merupakan simbol kepedulian sosial di tengah kehidupan bermasyarakat.


   maka dengan berlandaskan hal tersebut, teman-teman HMI MPO komisariat FTI UII bermaksud berbagi kebahagiaan dengan saudara-saudara korban erupsi merapi di desa Bawuan Klaten. Hal ini direalisasikan dengan menyumbangkan hewan kurban.  Hewan kurban yang terdiri atas lima ekor kambing merupakan hasil iuran teman-teman HMI MPO komisariat FTI UII. Hal ini patut disyukuri karena dapat melebihi target hewan kurban yang semula hanya seekor. 

                                                      


   Niat baik dari teman-teman  HMI MPO komisariat FTI UII ternyata mendapat sambutan hangat dari para penduduk sekitar. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya masyarakat yang hadir pada acara pemotongan hewan kurban tersebut. "Alhamdulillah mas, warga sini awalnya cuma ada 3 ekor kambing untuk disembelih, atas bantuan dari anak-anak HMI UII sekarang jadi 8 ekor", seloroh jumadi, warga bawuan sembari menguliti kambing kurban. "Menyumbangkan hewan kurban bisa dikatakan sebagai respon sosial dari kami terhadap realita sosial yang terjadi di masyarakat sekitar" ungkap Rustam Sidiq, Ketua HMI MPO komisariat FTI UII. "Semoga tahun depan kita bisa melaksanakan program kerja ini lagi", tambahnya.


    Selain itu, ketua bidang keagamaan HMI MPO komisariat FTI UII Herdika Oki Prasetya juga mengatakan, "Dengan Idul Adha, kita ingin mengembalikan pribadi yang kufur menjadi pribadi yang bersyukur, dari masyarakat yang biadab menjadi beradab, dari masyarakat zalim menjadi masyarakat yang adil. Dalam kesyukuran dan keadilan itu, Insya Allah nilai-nilai kemanusiaan dapat ditegakkan dengan sempurna, sehingga peradaban yang dibangun manusia merupakan berkah dari Allah SWT, dan bukan peradaban yang menghinakan manusia".  (RB)



Dunia kini melalui berbagai kemajuan ilmu dan teknologi kini sedang terus menerus mengalami proses integrasi. Interaksi antar manusia lintas negara, bangsa, dan benua kin terjadi dengan begitu mudah. Waktu, tempat, kebudayaan,dan berbagai faktor lain kini tak mampu lagi menjadi sekat-sekat pemisah atau filter interaksi manusia antar bangsa. Globalisasi yang sedemikian pesat selain menjadi sumber manfaat juga berpotensi menimbulkan berbagai problematika yang pelik. Apalagi jika globalisasi yang terjadi ditumpangi juga dengan gejala westernisasi, yang seringkali bertolak belakang dengan budaya timur, terlebih lagi Islam.

Westernisasi adalah suatu perbuatan seseorang yang mulai kehilangan jiwa nasionalismenya, yang meniru atau melakukan aktivitas bersifat kebarat-baratan (budaya bangsa lain). Westernisasi sudah berkembang di masyarakat luas. Dan hal ini menuntut kita untuk mawaspadai manakah yang bisa diterima dan mana yang tidak perlu diikuti. Sebagai mahasiswa dan kaum terpelajar, kita wajib menyaring gaya hidup bangsa lain yang masuk mempengaruhi bangsa kita, terlebih lagi yang tidak sesuai dengan budaya bangsa timur.

Westernisasi memberi dampak positif maupun dampak negatif. Dampak positif contohnya tentang pengaruh budaya lain dalam segi pakaian. Dulu bangsa kita, setiap hari memakai pakaian adat dalam melakukan aktivitas apapun. Kaum wanita di Jawa misalnya, memakai kebaya lengkap, tentu saja mebuatnya sangat sulit dalam melakukan aktivitas tertentu. Sehingga dari pengaruh westernisasi inilah di era baru ini kita dapat enggunakan pakaian biasa seperti kemeja, celana, rok, dan sebagainya. Disisi lain pengaruh westernisasi dari segi pakaian juga membawa dampak negatif. Awalnya bangsa kita yang sopan, selalu berpakaian tertutup kini tidak lagi, karena pengaruh pakaian-pakaian yang tidak sesuai. Generasi muda yang tidak mau menyaring terlebih dahulu seringkali terkena pengaruh buruk fashion bangsa lain. Mereka memakai pakaian yang  minimalis, membuka aurat dan sangat tidak sesuai dengan budaya bangsa kita. Inilah yang sering kali menjadi kontroversi.

Islam sebagai agama digunakan untuk memfilterisasi dampak negative dari westernisasi dengan cara mengupayakan untuk kembali kepada tiga dimensi ajaran pokok Islam adalahsolusi utama dalam memerangi pemikiran Barat. Tiga dimensi itu ialah Aqidah,Syari’at, dan Akhlak.Aqidah yang kokoh dan benar akan membawa kaum muslimin menjalaniaturan syari’at Islam dengan mantap dan sempurna. Jika aturan syari’at telahdijalankan, maka kondisi yang pernah terjadi pada masa-masa kejayaan Islam tidak mustahil akan kembali terulang. Aqidah dan syari’at membentuk watak atau prilakuyang mulia, dikarenakan aqidah dan syari’at Islam selalu menunjukkan kebenarandan kebaikan

Calon pemimpin muslim tentu harus mempunyai wawasan yang memadai mengenai globalisasi dan westernisasi sehingga mampu bersikap tepat dengan tanpa menyalahi prinsip-prinsip dasar Islam yang harus senantiasa dipegang teguh.

Lingkungan sosial dengan segala kompleksitasnya merupakan laboratorium tempat belajar sekaligus tempat mengaktualisasikan kemampuan calon pemimpin dalam rangka melakukan transformasi ke arah yang lebih baik. Oleh karena itu para calon pemimpin ini perlu dilatih kepekaan sosialnya, mulai dari prosess identifikasi permasalahan sampai dengan pemberian solusi atasnya. (EK)


Manusia sejak awal memiliki keyakinan terhadap Tuhan yang dalam Islam dikenal dengan Tauhid. Apa yang kita pahami dari konsep tauhid sebagai prinsip dasar muslim sesungguhnya adalah  upaya membangun kesadaran tunggal. Konsep tentang tahid meniscayakan adanya kesatuan wujud. Dengan konsep ini kita tidak semata meyakini bahwa Allah itu satu, tetapi juga meyakini realitas adalah satu  juga, atau tunggal. Konsekuensi logis dari pemahaman tersebut adalah apa yang nisbi bukanlah  realitas. Dia dinamakan  realitas justru hanya karena dinisbatkan kepada Tuhan. Segala aktivitas yang disandarkan selain Tuhan, maka itu bentuk “kemusrikan intelektual”, dan itulah noda besar yang tak termaafkan bagi kesucian Tauhid.
Posisi manusia di bumi tidak lain tidak bukan sebagai seorang hamba yang mengabdikan seluruh hidup kepada-Nya, maka keagungan kita tidak akan bisa terpahami tanpa keterkaitan denganTuhan. Bila ridha Tuhan tidak menjadi pusat orientasi kita dalam menjalani kehidupan ini, maka kualitas hidup kita akan menjadi rendah. Dengan menjadikan Tuhan sebagai tujuan akhir, kita akan terbebaskan dari derita alienasi, karena Tuhan adalah pesona yang Maha Hadir dan Maha Mutlak. Eksisitensi yang relatif akan lenyap kedalam ekistensi yang absolut. Kesadaran akan kemahahadiran Tuhan akan membuat kita selalu memiki kekutan, pengendalian sekaligus kedamaian, sehingga merasa dalam orbit Tuhan, tidak dalam orbit dunia yang tidak jelas jluntrung-nya.
Sikap berserah diri kepada Tuhan tersebut mengandung berbagai konsekuensi. Pertama, konsekewnsi dalam bentuk pengakuan yang tulus (ihklas) bahwa Tuhanlah satu-satunya sumber otoritas yang mutlak. Pengakuan  ini kelanjutan yang mutlak, yang menjadi sumber semua wujud mutlak, yang menjadi sumber semua wujud yang lain.
Konsekwensi kedua dari prinsip ketuhanan adalah bahwa umat manusia seluruh dunia adalah sama dari segi harkat dan martabat asasinya. Tidak seorangpun berhak merendahkan manusia yang lain, karena semuanya adalah sama di sisi Tuhan, kecuali takwanya. Tidak ada yang berhak menindas sesama manusia kecuali Tuhan.
Disinilah fungsi ita sebagai “abid” (hamba). Maksudnya adalah kita mengembalikan segala aktivitas yang kita lakukan hanya ditujukan kepada Tuhan, ini konsekwensi logis dari persaksian kita, la ilha illallah (transendensi). Tiada yang berhak dijadikan sandaran di dunia ini kecuali hanya Allah.
Tetapi ternyata Tuhan tidak hanya menjadikan manusia sebaga hamba yang mengabdi kepadanya, melainkakn Tuhan juga memberikan tanggungjawab kepada manusia untuk menjadi khalifah-Nya di bumi, inilah peran kita. Dan karena itu, sebagai mandatarisnya di muka bumi, maka nilai ilahiyah (implikasi dari keyakinan kepada Tuhan bahwa manuisa adalah hamab) tersebut harus memberi maslahah kepada manusia lain (kemanusiaan). Keyakinan demikian meupakan koneskwensi logis dari persaksian kedua kita Asyhadu anna muhammadar rasulullah.
Hanya saja dalam menjalani peran yang kita lakukan-dokter-pedagang-insinyur, ekonom, nelayan, petani atau apapun- itu adalah semua perintah Tuhan dan harus dioreintasikan hanya kepada Tuhan. Maka tanggungjawab kita adalah menjalani peran-peran tersebut dengan sebaik-baiknya (amanah), selama hal itu mendorong proses aktualisasi Tauhid, misi kekhalifahan dan kebebasan kita. Karena itu, apakah dan bagaimanakah kehidupan di dunia atau peran kita baik atau buruk, sangat tergantung sejauh mana kita bersignifikansi dengan proses aktualisasi orientasi dan misi kita hidup di dunia. (EK)