Rabu, 16 Maret 2011

   Apabila anda sedang mengalami stress, atau tensi anda naik, atau pusing yang berkepanjangan, atau mengalami nervous (salah satu jenis penyakit penyimpangan perilaku berupa uring-uringan, gelisah, takut, dll). Jika anda takut terkena tumor, maka sujud adalah solusinya.... Dengan sujud akan terlepas segala penyakit nervous dan penyakit kejiwaan lainnya. Inilah salah satu hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr. Muhammad Dhiyaa'uddin Hamid, dosen jurusan biologi dan ketua departemen radiasi makanan di lembaga penelitian teknologi radiasi.
   Sudah lumrah bahwasannya manusia apabila mengalami kelebihan dosis dalam radiasi, dan hidup di lingkungan tegangan listrik atau medan magnet, maka hal itu akan berdampak kepada badannya, akan bertambah kandungan elektrik di dalam tubuhnya. Oleh karena itu, Dr. Dhiyaa' mengatakan bahwa sesungguhnya sujud bisa menghilangkan zat-zat atau pun hal-hal yang menyebabkan sakit.

Pembahasan Seputar Organ Tubuh
 

  Dia adalah salah satu organ tubuh... dan dia membantu manusia dalam merasakan lingkungan sekitar, dan berinteraksi dengan dirinya, dan itulah tambahan dalam daerah listrik dan medan magnet yang dihasilkan oleh tubuh menyebabkan gangguandan merusak fungsi organ tubuh sehingga akhirnya mengalami penyakit modern yang disebut dengan "perasaan sumpeg", kejang-kejang otot, radang tenggorokan, mudah capek/lelah, stress ... sampai sering lupa, migrant, dan masalah menjadi semakin parah apabila tanpa ada usaha untuk menghindari penyebab semua ini, yaitu menjauhkan tubuh kita dari segala peralatan dan tempat-tempat yang demikian.
Solusinya ???
Harus dengan mengikuti sesuatu yang diridhai untuk mengeliminir hal itu semua, ... yaitu dengan bersujud kepada Satu-satunya Dzat yang Maha Esa sebagaimana kita sudah diperintah untuk hal itu, dimana sujud itu dimulai dengan menempelkan dahi ke bumi (lantai). Maka di dalam sujud akan mengalir ion-ion positif yang ada di dalam tubuh ke bumi (sebagai tempat ion-ion negatif). dan seterusnya sempurnalah aktivitas penetralisiran dampak listrik dan magnet. Lebih khusus lagi ketika sujud dengan menggunakan 7 anggota badan (dahi, hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua kaki) maka dalam posisi ini sangat memudahkan bagi kita menetralisir dampak listrik dan magnet.


  Diketahui selama penelitian, agar semakin sempurna proses penetralisiran dampak itu semua, maka sujud harus menghadap ke Makkah (Masjid Ka'bah), yaitu aktivitas yang kita lakukan di dalam shalat (qiblat). Sebab Makkah adalah pusat bumi di alam semesta. Dan penelitian semakin jelas bahwa menghadap ke Makkah ketika sujud adalah tempat yang paling utama untuk menetralisir manusia dari hal-hal yang mengganggu fikirannya dan membuat rileks.

Subhanallah, ....Begitu Maha Bijaksana Nya Engkau Ya Rabb..pantaskah kami mengharap surga – MU sementara kami lalai  atas segala yang Engkau perintahkan,.tapi Hamba yang Hina ini tak sanggup bila harus menjadi penghuni neraka yang Engkau sediakan bagi Hamba Mu yang durhaka…Ridhailah setiap langkah kebaikan hati ini…Tuntunlah segenap langkah diri ini untuk menggapai Surga yang telah Engkau Janjikan kepada setiap Hamba-MU yang Bertakwa & Beriman Kepada – Mu ya Rabb .   Amiin Ya Rabbal Alamin…

 


Assalamualaikum wbt,
Simpanlah baik2 postingan ini dan sebarkan pada rekan2 anda sebagai peringatan kita setiap hari dimana syaitan2 kurang ajar ini mengganggu hidup harian yang mungkin selama ini kita tidar sedar hasutan mereka. Sampaikan kepada sekelian muslimin/muslimat yang lain semoga menjadi pedoman hidup hingga keakhir hayat , Insya'Allah .

Umar al-Khattab r. a berkata, terdapat 9 jenis anak syaitan :

1.    Zalituun
Duduk di pasar/kedai supaya manusia hilang sifat jimat cermat. Menggoda supaya manusia berbelanja lebih dan membeli barang-barang yang tidak perlu.

2.    Wathiin
Pergi kepada orang yang mendapat musibah supaya bersangka buruk terhadap Allah.

3.    A'awan
Menghasut sultan/raja/pemerintah supaya tidak mendekati rakyat. Seronok dengan kedudukan/kekayaan hingga terabai kebajikan rakyat dan tidak mahu mendengar nasihat para ulama.

4.    Haffaf
Berkawan baik dengan kaki botol. Suka menghampiri orang yang berada di tempat-tempat maksiat (cth: disko, kelab mlm & tempat yg ada minuman keras).

5.    Murrah
Merosakkan dan melalaikan ahli dan orang yg sukakan muzik sehingga lupa kepada Allah. Mereka ini tenggelam dalam keseronokan dan glamour etc.

6.    Masuud
Duduk di bibir mulut manusia supaya melahirkan fitnah, gosip, umpatan dan apa sahaja penyakit yg mula dari kata-kata mulut.

7.    Daasim (BERILAH SALAM SEBELUM MASUK KE RUMAH...)
Duduk di pintu rumah kita. Jika tidak memberi salam ketika masuk ke rumah, Daasim akan bertindak agar berlaku keruntuhan rumahtangga (suami isteri bercerai-berai, suami bertindak ganas, memukul isteri, isteri hilang pertimbangan menuntut cerai, anak-anak didera dan pelbagai bentuk kemusnahan rumah tangga lagi).

8.    Walahaan
Menimbulkan rasa was-was dalam diri manusia khususnya ketika berwuduk dan solat dan menjejaskan ibadat-ibadat kita yg lain.

9.    Lakhuus
Merupakan sahabat orang Majusi yang menyembah api/matahari. Dan yang terakhir ni yang paling teruk! (SCROLL DI BAWAH)

10. Isetan.
Sebuah pasaraya yg terkemuka di seluruh duniawi. terdapat di sekitar Lembah klang, singapore, Beijing &..... Kebaikan: Memberi potongan harga pada Karnival jualan

Keburukan: Melalaikan manusia bershopping sehingga lupa waktu sembahyang dan lupe yg lakinya dah tunggu kat kereta. Pesanan ; Shopping tu agak2 sikit, jangan sampai berlebih2an pulak. Membazir itulah
sebenarnya amalan Syaitan

11. Hindusetan
Nie mereka2 yg menonton criter hindustan, sampai masuk waktu sembahyang, maseh menyonggol depan tv.....kapala keluar tanduk, tak sedar.......jadi lah hindusetan!!!

Senin, 07 Maret 2011


*Agus Rudianto
*Kader Hmi Komfak TI UII 

 Sebenarnya saya mau menulis dan mempublisnya tepat pada hari terbunuhnya  Tan Malaka tepat pada tanggal 19 Februari 1949, untuk memperingati 60 tahun terbunuhnya Tan Malaka secara tragis. Tapi hari ini tangan ku sudah tidak tahan lagi untuk menulis ini, mungkin para pembaca sudah akrab mendengar nama Tan Malaka, sedangkan saya baru kemaren belum lama kira-kira antara tahun 2004-2006 saya lupa, yang jelas kurang dari lima tahun begitu, dan baru beberapa bulan ini saya mulai mencari serta membaca buku-buku tentang Tan Malaka.
 Saya terlambat sekali untuk menggali pikiran-pikiran Tan Malaka yang sangat luar biasa bagi bangsa ini, sejak duduk di bangku sekolah dari SD, SMP, dan SMA sama sekali tidak pernah saya dengar yang namanya Tan Malaka dalam jajaran tokoh-tokoh besar Indonesia, apa karena dia seorang  PKI  atau Komunis Nasionalis danatau karena masalah Politik sehingga dia tidak masuk dalam kurikulum pendidikan sejarah waktu dulu saya masih duduk dibangku sekolah, dan apa sekarang juga masih belum ada dalam kurikulum pendidikan saya tidak tau pasti. Padahal Presiden Soekarno menetapkan Tan Malaka sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, melalui keputusan Presiden No. 53/ 1963, 14 tahun setelah kematian Tan Malaka. Memang sangat rumit tokoh ini tak banyak yang mengenalnya begitu dekat atau bertemu muka secara fisik, Tan Malaka cenderung menjadi Tokoh Legendaris.

  Tan Malaka bernama lengkap Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka, lahir pada tahun 1897 di Nagari Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, dan meninggal atau lebih tepat terbunuh secara tragis ditembak mati pada 19 Februari 1949 di pinggir Sungai Brantas, yaitu di desa Mojo yang letaknya di sebelah Selatan Kota Kediri, Jawa Timur. Penuturan Sekretariat Urusan Agitasi-Propaganda Dewan Partai Murba, oleh Djamaluddin Tamim berikut: …. Tan Malaka bersama-sama dua puluh orang pemuda pengawalnya seperti Si Teguh dari Magelang, Si Ali dari Aceh, Si Gimin dari Jawa Barat dan pemuda-pemuda lainnya dari Yogyakarta, Surakarta, Malang, Blitar, dan Kediri: telah ditembak mati pada 19 Februari 1949 di pinggir Sungai Brantas, yaitu di desa Mojo yang letaknya di sebelah Selatan Kota Kediri sejauh 10 km --- oleh dan atas perintah Let. Kol. Surachmat (Kepala Staf) dan Kolonel Sungkono (Panglima dan Gubernur Jawa Timur), yang keduanya menjabat selama periode 19 Desember 1948 (Agresi Belanda II)- Desember 1949 (Konferensi Meja Bundar)….
   Dalam buku yang berjudul Tan Malaka diBunuh (Resist Book, Yogyakarta, 2007), yang ditulis oleh Yunior Hafidh Hery berkesimpulan, “….tidak berlebihan jika dinilai Soekarno dan Hatta mengerti duduk-perkara terbuangnya nafas Tan Malaka, setidaknya sedikit. Mengetahui siapa yang membuang nafasnya pada 19 Februari 1949 lampau…. Sepatutnya yang sedikit/banyak ini disuguhkan kepada makamah agung sejarah Indonesia. Demi keterbukaan kita sebagai bangsa, demi terbukanya kran kejujuran. Semestinya Soekarno-Hatta, atau pewaris-pewaris ajaran mereka yang mengerti seluk-beluknya, menuturkan kronologi terbuangnya nafas Tan Malaka, dengan lapang dada”. Dalam buku ini juga dituliskan tentang Siapa yang membuang nafasnya Tan Malaka pada 19 Februari 1949? : Pemerintah Soekarno-Hatta mengintruksikan Nasution melucuti senjata pasukan-pasukan Tan Malaka  --> Soekarno-Hatta atau langsung melalui Nasution mencabut dukungan perwira-perwira di Divisi IV Siliwangi terhadap Tan Malaka, karena Tan Malaka sedang di Jawa Timur, Soekarno-Hatta lagi, langsung, atau lewat Nasution, memerintahkan otoritas Jawa Timur, Gubernur Sungkono, untuk menyelesaikan Tan Malaka --> Selanjutnya, lebih masuk akal diraba, Gubernur Sungkono  menunjuk Let. Kol. Surachmat sebagai pengeksekusi --> Let. Kol. Surachmat beraksi dengan satuan Macan Kerah … --> acara selesai dengan terbuangnya nafas Tan Malaka….
Pesan yang menarik dari bung Hery, “Revolusi jangan makan anak-anaknya sendiri, lagi”
Tan Malaka juga dikenal dengan Bapak Republik, Soekarno menganggapnya sebagai guru Revolusi. Tan Malaka juga dikenal anti-diplomasi tidak mempercayai semua jenis perundingan, semboyan Tan Malaka merdeka 100%.
Karya-karya Tan Malaka 1897 - 1949 
www.marxists.org


Sejarah Singkat Kelahiran HMI

  Kelahiran HMI tidak dapat dilepaskan dari Lafran Pane yang karena jabatannya sebagai ketua III senat STI (Sekolah Tinggi Islam yang sekarang Universitas Islam Indonesia), ia sekaligus menjadi Pengurus Pusat PMY (Persatuan Mahasiswa Yogyakarta) untuk wilayah STI. Oleh karena itu, ditubuh STI waktu itu ada satu seksi yang disebut sebagai “Seksi PMY” yang diketua oleh Lafran Pane. Pengalaman Lafran Pane sebagai salah satu fungsionaris organisasi ekstra Universitas itulah yang kemudia mendorongnya membentuk satu organisasi ekstra yang beranggotakan mahasiswa-mahasiswa Islam.
 Pada tanggal 5 Februari 1947, bertempat disalah satu ruang kuliah STI di Jl. Setyodiningratan, Lafran Pane bersama 20 orang mahasiswa STI mengadakan pertemuan untuk mendirikan sebuah organisasi mahasiswa Islam yang diberi nama “Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)”. Hasil pertemuan tersebut kemudia diajukan ke Rektor STI, KH. A. Kahar Muzakkir, dan mendapat sambutan yang sangat baik. Bahkan, konon KH. A. Kahar Muzakkir memberikan bantuan finansial setiap bulanya sebesar Rp. 25,- (dua puluh lima rupiah) untuk kelangsungan hidup organisasi tersebut. Pada perkembangannya, organisasi tersebut terus hidup dan berkembang luas yang tidak terbatas pada mahasiswa STI atau mahasiswa UII dikemudian hari, tetapi juga merambah ke berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia, baik negeri maupun swasta. Sekembalinya pemerintah RI ke Jakarta, HMI ikut dipindahkan keJakarta yang diketuai oleh Lukman untuk beberapa bulan, kemudia diteruskan oleh A. Dahlan Ranuwihardjo.
 Hari ini tepat 62 tahun usia HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), Setelah melewati hari-hari yang panjang HMI tetap kokoh berdiri tegak menjawab tantangan zaman. Organisasi perkaderan yang bersifat kemahasiswaan ini besar karena loyalitas perjuangan orang-orang yang ada didalamnya, suatu kebanggan tersendiri ketika dapat bergabung dengan orang yang memiliki semangat militansi perjuangan yang tinggi.
Awal Masuk Jogjakarta
 Tahun 2004 saya menginjakkan kaki di tanah jawa tepatnya di Jogjakarta, yang terkenal dengan sebutan kota pelajar atau juga terkenal dengan kota Gudeg makanan khas Jogjakarta. Tepat jam 19.00 waktu Jogjakarta saya mendarat dengan selamat di Bandara Aji Sucipto Jogjakarta dengan selamat, dan dengan keadaan lutut dan lengan kanan ku yang masih luka akibat kecelakaan motor di kampong halamanku Kuala Enok INHIL-Riau.
 Kebingungan mulai melanda pikiran saya untuk memilih Universitas mana yang harus dipilih, mondar-mandir keluar-masuk kampus ikuti tes sana-sini, akhirnya saya diterima dua Universitas sekali gus. Lagi-lagi kebingungan memilih Universitas apa yang dipilih. Mendengarkan saran abang saya yang lebih condong ke UII (Universitas Islam Indonesia), akhirnya saya ikuti saran beliau untuk kuliah disana, makasih abang ku yang baik hati.
 Babak baru dimulai dengan mengenal kampus perjuangan UII, dimana UII memang didiriakan oleh funding fathrer para pejuang bangsa. Sayang banyak mahasiswanya tidak menyadari hal itu, ya memang UII sudah banyak berubah baik secara fisik dan kultur. Namun disamping itu semua saya tetap merasa bangga dan bahagia serta bersyukur kepada Allah SWT, karena telah mentakdirkan saya kuliah di UII dengan segenap kekurangan dan kelebihannya.
Mulai Mengenal Organisasi
 Hal yang melengkapi kebanggaan dan kebahagian itu adalah ketika saya ikut bergabung dengan HMI MPO, organisasi yang lahir di UII sungguh membuat saya seakan tidak percaya kalau saya menjalani semua ini. Awalnya saya anti dengan yang namanya HMI karena waktu itu pengetahuan saya masih dangkal tentang pergerakan dan HMI. Ditambah lagi dengan HMI yang katanya pecah menjadi dua membuat saya bingung. Malah sebelum saya bergabung dengan HMI MPO saya sempat menghujat HMI MPO dengan mengatakan anak haram dari HMI, namun kebencian itu akhirnya menjadi cinta yang mendalam dan rela menumpahkan pikiran, keringat serta darah demi membela HMI MPO, setelah saya mengenal dengan baik apa itu HMI?...
Tahun ini merupakan tahun ke tiga saya menjadi kader HMI MPO, hari-hari yang panjang menuju HMI MPO adalah masa pencarian jati diri mencari organisasi yang sesuai dengan jiwa saya. Satu tahun lebih saya mencoba memahami arah gerak organisasi, saya coba memahami organisasi intra dan extra kampus, baik didalam UII maupun diluar UII. Saya sempat terlibat dengan masuk salah satu organisasi extra kampus, namun itu tidak berlangsung lama karena tidak sesuai dengan jiwa saya dan sifat mahasiswa yang seharusnya independent.
 Masuknya saya menjadi seorang HMI MPO sebenarnya tidak lepas dari orang-orang yang loyal terhadapa HMI MPO, dengan karakter ku yang tidak mudah untuk jatuh cinta langsung dan percaya terhadap suatu organisasi membuat proses masuk HMI MPO menjadi tarik ulur. Dengan kesabaran yang luar biasa seorang teman dapat menyadarkan saya bahwa jiwa saya adalah HMI MPO.
Ada tiga kawan yang berperan besar dalam upaya mengenalkan saya kepada HMI MPO, yaitu adalah Kharisma Aji Mahastoto (Sekum HMI MPO KomFak TI dan Ketua Komisi II DPM UII), orang yang begitu sabar mengajak saya untuk masuk HMI, saya banyak belajar dengan kawan yang satu ini tentang dealektika dan komunikasi dalam organisasi, selanjutnya mas Denny Dwi Apriliano (Manta Ketua LEM UII 2006-2008), yang selalu memberikan motifasi kepada saya untuk percaya diri menjadi seorang pemimpin, dan Heni Wijayanti (Ketua LEM UII 2008-2009), yang pertama kali memberikan saya artikel-artikel tentang HMI MPO serta semangatnya yang selalu saya contoh loyalitas dalam organisasi.
Dalam milad HMI yang ke 62 ini saya ucapakan terimakasih untuk sahabat saya, kawan saya dan saudara saya seperjuangan, kader-kader HMI MPO Komisariat Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia, Kakanda dan Adinda, Imam Komisariat(Pak Memet), Dewan Penasehat Komi (Kanda Novril), Takmir Komi (Kanda iDank dan Ardhi), dan semua kader yang tidak bisa saya sebutkan namanya satu-persatu.
 Demikian sedikit cerita tentang hari-hari panjang menuju HMI MPO, saya bukanlah seorang yang panatik terhadap sesuatu hal, pada dasarnya semua organisasi mahasiswa adalah baik, sama-sama memiliki landasan organisasi, dan kembali Kediri masing-masing apakah mau bergerak berjuang, karena sebagus apapun organisasinya kalau didalamnya tidak memiliki etos perjuangan yang tinggi maka sangat mungkin sekali organisasi tersebut diambang kehancuran.
HMI MPO terbukti selama 62 tahun tetap berdiri tegak, silahkan saudara pembaca simpulkan masing-masing, saya tidak bilang bahwa HMI MPO yang terbaik, setaip organisasi memiliki kekurangan dan kelebihan.
Yakin Usaha Sampai untuk kemajuan
 Ya Allah Berkahi
Bahagia HMI….            
  
Yogyakarta, 5 Februari 2009
*Agus Rudiyanto
                                                    

                                                                                      *Kader Hmi Komfak TI UII

Jumat, 04 Maret 2011

  
  oleh: *Rm. Nurcahyadi 
         * Kader Hmi Komfak TI
  
    Pasir & batu berkawan menjadikannya gersang bersama terik mentari, bukan halangan untuk tersenyum kembali.
Srunen, sebuah dusun ketiga dari puncak merapi adalah tempatku dan kawan-kawan mengabdi sementara untuk sebulan lebih ini, program kuliah kerja nyata yang sedang kujalani ini menempatkan aku di sebuah dusun yang dulu asri kini sudah susah untuk dihuni.
     Ini sedikit catatan hidupku tinggal bersama manusia hebat kaki merapi yang lagi-lagi menambah beban memory otakku untuk menyimpan semua ingatan bersejarah. Menempuh perjalanan sekitar 15 menit melewati kali gendol yang hingga kini masih berasap dengan aroma belerang yang lumayan menyengat, rumah yang sudah tidak berpenghuni, gunung-gunung pasir yang menjulang dengan batu-batu besar sebagai ornamennya..hingga akhirnya di ujung sana terpampang sebuah gedung yang lumayan besar yang merupakan bangunan kelurahan, kondisinya masih bisa dikatakan lumayan untuk menjadi tempat aku dan kawan-kawan bermukim selama program kkn ini.
     Dibelakang gedung besar inilah berbaris bilik-bilik bambu dengan alas tanah sebagai tempat mereka bermimpi sekarang akan masa depan yang lebih cerah, Kurang lebih 5 km jaraknya dari dusun mereka semula, sebuah hunian sementara yang biasa disebut shelter bantuan pemerintah yang ukurannya mungkin tidak lebih lebar dari garasi rumah pejabat, 2kamar tidur, 1kamar mandi dan dapur, dari melihatnya pun dingin pasti tak segan menyerang mereka yang didalamnya, kalau bisa kusimpulkan shelter ini seperti tempat tinggal yang bisa dibilang “asal tidak kehujanan”.
Lingkungan baru buatku dan aku yang baru buat mereka, bukan soal besar yang perlu dikhawatirkan, warga shelter menerima aku dan kawan-kawan dengan hangatnya seperti sudah menjadi bagian dari mereka sejak lama. Senyum ramah selalu menghiasi langkah kecilku menyusuri jalanan diantara shelter- shelter ini, menandakan seperti tak ada sesuatu yang pernah terjadi sebelumnya, kenyataannya mereka menghadapi kehilangan sesuatu yang sangat berharga, mereka sadar ini adalah kehidupan yang kadang suka kadang duka..bukan hukuman namun ujian, tak kusangka manusia-manusia ini terlalu kuat untuk bisa kusaingi ketabahannya.
        Dan sebagaimana suatu kelompok memiliki ketua begitu juga dengan Dusun Srunen yang memiliki Pak Sukatmin..manusia berperawakan kecil, sangat sederhana, dan memiliki senyum ramah desa yang susah ditemukan jika tinggal di lingkungan perkotaan. Beliau seorang pimimpin di dusun Srunen biasa disebut dengan sebutan Pak Dukuh bagi warganya. Bersama sang istri dan ketiga anaknya lah beliau menempati shelter ini. Mereka sekeluarga yang menjadi keluarga baruku, walaupun aku dan kawan-kawan ini hanya anak angkat yang kalau dilihat dari kuantitasnya bisa menyusahkan sekaligus menyesakkan shelter..beliau tidak pernah merasa direpotkan. Begitu halnya dengan warga Srunen lainnya.
     Dari sinilah aku belajar lagi tentang kehidupan bersama warga Srunen dengan bimbingan seorang ayah angkat yang sedikit lebih muda dari ayahku di kampung halaman sana. Bagaimana saling menghargai dan menghormati sesama, menerima segala apa yang sudah menjadi kehendakNya, hidup harus terus berjalan dengan berusaha dan berdoa.
aku di kaki merapi dengan segala introspeksi diri, 22 februari 2011 – 8 april 2011.
                                                                                                                                        oleh: *Rm. Nurcahyadi 
                                                                                                                                                 * Kader Hmi Komfak TI
Malam itu pukul 19.05 WIB.  Sinar rembulan tak tampak di langit Yogyakarta, dan masih tersisa butiran-butiran kecil air hujan.  Jalan kaliurang Km.14,5 tampak lebih sepi dari biasanya. Tapi kesunyian itu tak tampak di beranda Fakultas Teknologi Industri UII,ada satu hal berbeda terjadi disana. Yaitu tepatnya di gedung Fakultas teknologi Industri UII yang ternyata malah semakin ramai saja. Tampak juga beberapa orang berbaju hitam mondar-mandir di sekitar beranda fakultas sesekali menyapa para tamu yang hadir. Ada apa gerangan disana?.
Ya, ternyata pada malam itu Himpunan Mahasiswa Islam (Hmi) Komisariat Fakultas Teknologi Industri UII sedang mengadakan hajatan besar. Dengan mengusung tema ” Internalisasi Peran Intelektual Kader Dengan Bingkai ke-Hmi-an dalam Menghadapi Perkembangan Teknologi Guna Menciptakan Insan Ulil Albab” mereka yang telah selesai melaksanakan Rapat Anggaran Komisariat (RAK) bermaksud untuk melantik formaturiat terpilih menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Islam komisariat Fakultas Teknologi Industri UII dan juga untuk melantik kepengurusan yang baru (periode 2011-2012). Acara ini dihadiri pula oleh Ketua Himpunan Mahasiswa Cabang Yogyakarta , ketua Himpunan Mahasiswa Islam koordinator komisariat  UII dan beberapa kader dari komisariat lain.
Dalam sambutannya, ketua terpilih (kanda Rustam Sidiq) menjelaskan tentang peran, fungsi dan tanggungjawab kader dalam hal perkembangan komisariat kedepannya. Beliau berharap agar para pengurus baru yang dilantik tetap menjaga amanah yang diembannya dengan baik.  Dan ia juga berharap agar para kader menghargai waktu. “waktu itu bagaikan pedang, jadi harus kita manfaatkan sebaik mungkin. Karena jika waktu tidak dimanfaatkan dengan baik, maka waktu itu sendiri yang akan membunuh kita” demikian kata kanda Rustam. Acara pun ditutup dengan pembacaan doa disertai ucapan syukur yang mendalam dari kader
             
                                                                                                                           (RDH bjg)

.